JESTV.ID, PRINGSEWU – Rencana Umum Pengadaan (RUP) tahun 2025 yang dirilis Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) kabupaten Pringsewu menimbulkan banyak pertanyaan. Dokumen yang seharusnya mencerminkan kebutuhan riil justru dipenuhi paket-paket kecil bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, yang rawan dianggap sebagai pecah paket.
Dari catatan, ada belanja alat tulis kantor berulang kali dengan nilai Rp490 ribu, Rp615 ribu, Rp322 ribu, bahkan ada yang dianggarkan Rp124 ribu. Pola ini menunjukkan ketidakseriusan dalam perencanaan dan berpotensi membuka ruang inefisiensi.
Namun, di luar paket kecil tersebut, terdapat pula anggaran besar yang tak kalah mengundang sorotan: Rp260 juta hanya untuk mengikuti tiga event pameran. Rp140 juta untuk mengikuti Pekan Raya Lampung (PRL), Rp60 juta untuk pameran Kriyanusa, dan Rp60 juta untuk pameran Inacraft. Ketiganya dikategorikan sebagai “Belanja Jasa Penyelenggaraan Acara”.
Partisipasi dalam pameran memang bisa menjadi sarana promosi produk UMKM. Tetapi pertanyaan mendasarnya: apakah urgensi ini sebanding dengan biaya ratusan juta rupiah?
Pekan Raya Lampung lebih dikenal sebagai ajang hiburan rakyat dengan konten campuran, bukan fokus murni pameran dagang. Sementara Kriyanusa dan Inacraft memang menonjolkan produk kerajinan, namun manfaat riil bagi UMKM daerah seringkali tidak jelas. Diskoperindag perlu menjawab: Berapa UMKM binaan yang akan dibawa? Berapa nilai transaksi yang ditargetkan dan dicapai? Apa rencana tindak lanjut setelah acara selesai?
Tanpa indikator ini, kegiatan pameran rawan hanya menghasilkan laporan formal, dokumentasi foto, dan publikasi seremonial.
RUP Diskoperindag 2025, dengan pola pecah paket di satu sisi dan belanja jumbo untuk pameran di sisi lain, menggambarkan lemahnya orientasi pada manfaat nyata. Transparansi mengenai TOR (Term of Reference), daftar UMKM peserta, serta output terukur menjadi kebutuhan mendesak agar anggaran tidak terjebak dalam pola lama: seremoni besar, dampak kecil. (A. Taqwin)

