JESTV.ID – Di tengah keramaian dan suci di Kota Mekah, terdapat sebuah kisah yang mengharukan tentang seorang Kiyai yang wafat dengan senyuman di wajahnya. Seorang Kiyai yang hendak melaksanakan ibadah haji dengan penuh ketulusan dan kesabaran, menghembuskan nafas terakhirnya di kota suci kelahiran Nabi.
Meskipun kematian adalah suatu hal yang tak terhindarkan bagi setiap insan, namun bagaimana seseorang menghadapinya merupakan cermin dari kehidupan yang telah dijalani. Sang Kiyai yang wafat di Kota Mekah tersebut meninggalkan kesan yang mendalam bagi siapapun yang mengenalnya. Walaupun perjalanan hidupnya telah usai, namun senyuman di wajahnya memberikan ketenangan dan keindahan pada saat-saat terakhirnya.
Dalam kesibukan ibadah dan prosesi pemakaman di Kota Mekah, kisah sang Kiyai menjadi inspirasi bagi insan Manusia. Senyuman yang terukir di wajahnya seolah mengingatkan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, namun awal dari perjalanan menuju keabadian. Ketulusan dan keikhlasan yang selalu dipancarkan oleh sang Kiyai menjadi pelajaran berharga bagi yang hadir, bahwa ibadah yang dilakukan dengan hati yang tulus akan membuahkan keindahan di akhirat.
Meskipun air mata dan kesedihan menyelimuti kepergian sang Kiyai, namun senyuman yang terukir di wajahnya memberikan kekuatan dan kepercayaan bahwa ia telah berpulang dengan tenang dan damai. Kota Mekah menyaksikan kepergian seorang Kiyai yang meninggalkan jejak kebaikan dan ketulusan di setiap langkahnya. Tidak ada kesedihan yang abadi, namun kebaikan dan kenangan akan senyuman sang Kiyai akan tetap mengalir dalam hati setiap orang yang pernah berjumpa dengannya.
Dalam kesunyian pemakaman di Kota Mekah, doa-doa terucap untuk mendoakan kebaikan dan keselamatan bagi sang Kiyai yang telah pergi. Semangat ibadah yang telah digenggamnya dengan erat selama hidupnya kini menjadi warisan yang akan terus dikenang oleh banyak orang. Mungkin tak ada yang bisa mengungkapkan betapa besar kebaikan dan ketulusan yang telah ia tanamkan pada setiap orang yang berpapasan dengannya.
Kota Mekah, dengan segala kebesarannya, menyimpan kisah-kisah yang selalu menggetarkan hati setiap yang mendengarnya. Kisah sang Kiyai yang wafat dengan senyuman menjadi salah satu cermin dari keagungan kota suci tersebut. Di tengah penuhnya kehidupan dan kesibukan di Mekah, senyuman sang Kiyai mengingatkan bahwa kematian hanyalah sekadar perpisahan sementara, dan kebaikan yang ia tanamkan selama hidupnya akan terus bersemi dalam hati setiap orang yang pernah ia sentuh.
Dalam diamnya kota suci Mekah, kiranya doa-doa tercurah untuk sang Kiyai yang telah berpulang. Semoga ia mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan, dan kebaikan yang telah ia tanamkan semakin mengalir luas dan membawa berkah bagi para santri dan banyak orang. Senyuman sang Kiyai yang terukir abadi dalam kenangan, menjadi cahaya dan inspirasi bagi siapa pun yang mendengarnya.
Di Kota Mekah, di antara lautan orang dan kabah yang suci, terdapat kisah yang tak terlupakan tentang seorang Kiyai yang wafat dengan senyuman. Semoga cerita tersebut menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa kebaikan dan ketulusan adalah warisan yang abadi, melebihi batas hidup dan mati. Dengan senyuman di wajahnya, sang Kiyai telah memberikan pelajaran yang tak ternilai harganya tentang bagaimana seharusnya kita menghadapi kematian, dengan ketenangan dan kesabaran, serta keyakinan akan keabadian yang menanti di sisi Tuhan.
Kiyai tersebut bernama KH. Tb. Hamdi Ma’ani Rusjdi, mata air Nahdlatul Ulama dari Menes, Pandeglang.
Pamulang, 9 Juni 2024.
Kholik Ramdan Mahesa
Santri dari Sang Kiyai
(Dikutip dari akun Facebook Asep Ricky Samsul Rizal)
