JESTV.ID, LEBAK – Dianggap pelayanan tidak maksimal kepada sang ayah yang dirawat di RS Adjidarmo Kabupaten Lebak, saat kondisi ayahnya dalam kondisi kritis, Ending Hasanudin (Alm) 67 dirawat tidak pada tempat semestinya.
Chaerudin warga Kampung Keong, Desa Cikatapis, Kecamatan Kalanganyar RT 02/RW 03, menganggap pelayanan medis di ruangan Instalasi Gawacouteaux laguiole steak accesorios nevera siemens teddy mantel beige lang urlaub mit hund born darß el gato con sombrero pelicula completa en español telecomando per cancello came amazon max lens for gopro hero 9 große wäscheklammer deko glitzer maske rossmann lampe a petrole led g shock japan online camiseta u tidal piano g2 webcam bakio badezimmer regal teleskopstange t Darurat (IGD) tidak sesuai dengan namanya, karena orangtuanya di rawat tergeletak di lantai ruangan IGD tanpa di beri alas tidur, padahal orangtuanya dalam kondisi koma. Setelah satu jam dirawat di lantai, pasien baru mendapat tempat tidur layaknya pasien lainnya.
Tentu sebagai anak, Chaerudin sangat menyayangkan dan kecewa terhadap pelayanan medis di ruangan IGD kenapa bapaknya yang sudah kritis tidak diberikan tempat yang layak, sehingga medis terkesan tidak mempertimbangkan mana pasien yang darurat. Hal ini di sampaikan Chaerudin kepada awak media Jestv.id, Senin (27/11/2023).
“Saya sangat kecewa dengan pelayanan Rumah Sakit umum Adjidarmo kang, masa orang tu a saya sudah dalam kondisi kritis dirawat di gletakin di lantai,” ungkapnya.
“Harusnya dokter mempertimbangkan mana yang darurat dan yang tidak lah, jangan disamakan dengan yang lainnya, dokter kan lebih tau mana yang darurat dan tidak,” keluh Chaerudin dengan raut kecewa.
Lanjutnya, “Bapak saya satu jam di lantai ga di kasih alas, kan saya bayar tidak gratis, untung saya bawa kasur lantai dari rumah kang,” tambahnya.
“Selah satu jam di baringkan di tempat tidur, akhirnya bapak saya meninggal, itu kan sebuah bukti kalau bapak saya kritis,” jelas Chaerudin seraya kesal.
“Memang kejadian ini sudah sebulan lebih, empat puluh hari lah, tapi masih membekas kang sedih saya kalau ingat di Rumah Sakit,” pungkasnya.
Di hari yang sama, awak media jestv.id, lanjut menghubungi Direktur RS Adjidarmo dan pihaknya pun menerangkan Standar Operasional (SOP) dan kebijakan selaku pengelola Rumah Sakit, dr. Bhudi Mulyanto via chat Whatsappnya.

Ditanya kapasitas tempat tidur pasien, “Terkait kapasitas tempat tidur pasien sebenarnya sudah maksimal, seharusnya hanya dua puluh saja pak, tapi saya sudah upaya maksimal, hingga ruangan IGD di isi tiga puluh tempat tidur pasien,” jelas Budi.
Saat awak media sampaikan masih bisa di tambah kuota, Budi menjawab, “Kalaupun ada ruang yang kosong kan itu digunakan untuk mobilitas tenaga medis dan lalu-lalang keluarga pasien,” ungkapnya.
Ditanya Kebijakan sebagai seorang Direktur, “Yah kebijakan juga harus sesuai SOP pak, jika pasien dirawat di lantai, itu menandakan kesigapan para medis, agar segera melakukan tindakan, kalaupun pasien belum mendapatkan tempat tidur,” pungkas Budi. (Aris RJ)

